Faktor Risiko Efek Samping Obat dan Merasa Sehat Terhadap Ketidakpatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru

  • Asriati Asriati Universitas Halu Oleo
  • La Ode Alifariki Universitas Halu Oleo
  • Adius Kusnan Universitas Halu Oleo
Keywords: Tuberkulosis Paru, Ketidakpatuhan, Pengobatan

Abstract

Tuberkulosis Paru (TB) tetap menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan juga banyak negara lain di dunia. Salah satu strategi untuk mengelola penyakit ini adalah dengan penerapan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course). Namun, program TB Paru di Kota Kendari mencapai tingkat ketidaksesuaian 12% pada tahun 2006 dan 11% pada tahun 2007. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko pengobatan ketidaksesuaian pasien TB di kota Kendari. Penelitian ini adalah desain kasus kontrol, dengan 136 responden terdiri dari 68 kasus dan 68 kontrol. Sampel kasus adalah semua pasien TB baru berusia 15 tahun ke atas yang pengobatan tidak sesuai. Sampel kontrol adalah semua pasien TB baru berusia 15 tahun dan di atas, siapa yang mematuhi perawatan. Analisis data dengan sistem tabulasi dan statistik oleh SPSS dengan rasio odds. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua variabel yang dianggap berisiko terhadap ketidakpatuhan untuk minum obat, semua variabel yang ditemukan memiliki risiko ketidakpatuhan, yaitu efek samping obat OR = 3,853 (95% CI: 1,723-8,616), dan merasa sehat OR = 5,250 (95% CI: 2,174-12,672). Simpulan: efek samping obat  dan merasa sehat  merupakan faktor risiko terhadap ketidakpatuhan pengobatan pasien TB di Kota Kendari.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abarca Tomas, B. et al. (2013) ‘Tuberculosis in migrant populations. A systematic review of the qualitative literature.’, PloS one. United States, 8(12), p. e82440. doi: 10.1371/journal.pone.0082440.
Amiruddin R (2006) Faktor Keberhasilan Konversi Pada Penderita TB Paru di Puskesmas Jongaya Pada tahun 2006. Universitas Hasanuddin.
Andayani, S. and Astuti, Y. (2017) ‘Prediksi Kejadian Penyakit Tuberkulosis Paru Berdasarkan Usia Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2016-2020’, Indonesian Journal for Health Sciences, 1(2), pp. 29–33. doi: 10.24269/ijhs.v1i2.2017.2.
Buton L (2003) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kegagalan Konvensi (BTA Positif) pada Akhir Pengobatan Fase Insentif Penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif Baru di Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara. Universitas Airlangga.
Fang, X.-H. et al. (2019) ‘Prevalence of and Factors Influencing Anti-Tuberculosis Treatment Non-Adherence Among Patients with Pulmonary Tuberculosis: A Cross-Sectional Study in Anhui Province, Eastern China’, Medical science monitor : international medical journal of experimental and clinical research. International Scientific Literature, Inc., 25, pp. 1928–1935. doi: 10.12659/MSM.913510.
Kaona, F. A. D. et al. (2004) ‘An assessment of factors contributing to treatment adherence and knowledge of TB transmission among patients on TB treatment’, BMC public health. BioMed Central, 4, p. 68. doi: 10.1186/1471-2458-4-68.
Lonnroth, K. et al. (2010) ‘Tuberculosis control and elimination 2010-50: cure, care, and social development.’, Lancet (London, England). England, 375(9728), pp. 1814–1829. doi: 10.1016/S0140-6736(10)60483-7.
Madeira de Oliveira, S. et al. (2018) ‘Predictors of noncompliance to pulmonary tuberculosis treatment: An insight from South America’, PLOS ONE. Public Library of Science, 13(9), p. e0202593. Available at: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0202593.
Padang, Muchtar, N. H. and Herman, D. (2018) ‘Artikel Penelitian Gambaran Faktor Risiko Timbulnya Tuberkulosis Paru pada Pasien yang Berkunjung ke Unit DOTS RSUP Dr . M . Djamil’, Gambaran Faktor Risiko Timbulnya Tuberkulosis Paru pada Pasien yang Berkunjung ke Unit DOTS RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2015 Nurul, 7(1), pp. 80–87.
RSJ Prop.Sultra (2017) Profil RSJ Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari.
El Sahly, H. M. et al. (2004) ‘Recurrent tuberculosis in Houston, Texas: a population-based study.’, The international journal of tuberculosis and lung disease : the official journal of the International Union against Tuberculosis and Lung Disease. France, 8(3), pp. 333–340.
Suharyo (2013) ‘Determinasi Penyakit Tuberkulosis Di Pedesaan’, KESMAS - Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), pp. 85–91. doi: 10.15294/kemas.v9i1.2834.
Wirdani (2004) Hubungan keberadaan Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan keteraturan minum obat fase intensif penderita TB paru di Puskesmas Kabupaten Pandeglang tahun 2000. Universitas Indonesia.
World Health Organization (WHO) (2015) Globat Tuberculosis Report. 20th Editi. Geneva, Switzerland: WHO Press.
Zumla, A. et al (2013) ‘The WHO 2014 global tuberculosis report—further to go’, The Lancet Global Health’, Elsevier, 3(1), pp. e10–e12.
Published
2019-12-31
How to Cite
Asriati, A., Alifariki, L., & Kusnan, A. (2019). Faktor Risiko Efek Samping Obat dan Merasa Sehat Terhadap Ketidakpatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru. JURNAL KESEHATAN PERINTIS (Perintis’s Health Journal), 6(2), 134-139. https://doi.org/10.33653/jkp.v6i2.344